Friday, March 11, 2011

Berdamai dengan Pengadil


Satu hari menjelang derby panas, di kandang Setan Merah. MU akan menjamu Arsenal. Misinya memperebutkan 1 tiket perempat final Piala FA. Setan Merah dan Meriam London punya sejarah pertemuan yang panjang, dan panas, gw bicara di atas suhu air mendidih, 100 derajat celcius.
Yang paling gw inget adalah ketika The Gunners, yang kala itu masih dihuni para "Bad Boys", dengan bek-bek tengah mereka yg berbadan tinggi keker. Ada Tony Adams, Martin Kewon, pemain tengah yang tringginas, bertenaga badak kaya Vierra. dan pemain2 yang licin menyayat pertahanan lawan kaya Ljunberg n Pires, bertemu, wasit pasti jadi orang yg paling sibuk dilapangan, entah ngeluarin kartu, entah melerai pertikaian antar pemain. Yang pasti pada era itu The Gunners menjadi seperti menjadi Bad Boys, biang kerusuhan, mengandalkan permainan fisik, banyak dikritik karena permainannya, yang menurut mereka cenderung kasar, dan yang pasti menjadi musuh banyak pengadil lapangan. Tapi ga bisa dipungkirin itu adalah masa keemasan The Gunners, di mana mereka memenangkan banyak tropi.

Masa itu sudah berlalu, "The Bad Boys" sudah berganti menjadi "The Young Gunners", anak-anak bengal London utara sudah bertransformasi menjadi
"peluru-peluru muda dengan wajah yang masih polos penuh semangat, bermain atraktif, dengan kecepatan dan determinasi yang tinggi. permainan mereka menjadi sangat enak ditonton.

Liat aja, gmn sang kapten Muda Fabregas dengan bijaksana mengatu alur bola, skenario permainan penuh berada ditangannya. Dirigen yang genius! Liat gimana, theo Walcott dari sisi kanan menggiring bola, seperti sedang dikejar setan. Perhatikan cara Nasri "menari balet" sambil menggiring bola masuk ke gawang lawan, atau Wilshare yang dengan gigihnya berusaha terus mensuplai bola ke depan. Mereka semua adalah anak-anak muda penuh talenta luar biasa yang dimiliki Arsenal sekarang.

Tapi apakah trasformasi itu disadari olah para wasit, karena melihat pertandiangan belakangan, menurut gw banyak keputusan wasit yang merugikan anak-anak muda ini. Gw menyaksikannya sendiri, sepertinya mereka masih di bayang2in reputasi pendahulu2 mereka. Ketika mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran wasit memberikan hukuma yang berat, tapi ketika mereka dilanggar, dibilang mencari2 kesalahan atau malah dihukum. (menurut gw). Sepertinya pemain klub lain mengerti, utk ngalahin Arsenal, lakukan lewat emosi dan reputasi, Hal yang paling bisa dilakukan adalah memancing emosi para anak Arsenal, dengan melakukan pelanggaran2 "licik" (sedikit emosi)

Anyway, let it go guys! sedikit lagi kita menuju puncak, coba untuk sedikit sabar, tahan emosi, bermain cantiklah seperti biasanya, yg paling penting berdamai lah dengan wasit.... setuju?

Sampai bertemu di puncak Juara!

Go Gunners Go!

No comments:

Post a Comment